Penguat Ketahanan Pangan, Perempuan atau Negara?

ALASTA NEWS

- Redaksi

Minggu, 5 Januari 2025 - 07:07 WIB

50575 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hasmiati A.md
Pemerhati Sosial

Keberadaan perempuan menjadi salah satu penguat ketahanan pangan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hal itu dibuktikan dengan data dari Dinas Pangan, Ketahanan Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim yang menyebutkan 70 persen tenaga kerja di sektor pertanian di Kaltim didominasi oleh perempuan.

Dalam skala nasional, peran perempuan dalam mencapai swasembada pangan di berbagai aspek pertanian dan pengolahan makanan mencapai 24 persen. DPTPH Kaltim merinci, jumlah rumah tangga petani menurut jenis kelamin per 2023 mencapai 205.927 petani dengan rincian 17.066 perempuan dan 198.826 laki-laki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Proyek Strategis Nasional adalah Swasembada Pangan menuju Ketahanan Pangan daerah maupun Nasional. Memang sudah fitrahnya perempuan memiliki talenta yang multi dibandingkan laki-laki. Paradigma ini membuat perempuan lebih berdaya. Perempuan memiliki potensi besar untuk berkiprah di berbagai bidang termasuk kekuatan ketahanan pangan.

Padahal sejatinya ketahanan pangan dengan mengandalkan potensi perempuan membuktikan peran pemerintah gagal menciptakan swasembada pangan secara mandiri. Contoh produksi pangan daerah Kaltim masih bergantung pada daerah luar Kaltim, yakni Sulawesi dan Jawa bahkan import.

Program ketahanan pangan mendorong perempuan untuk bisa mengatur kebutuhan gizi pangan keluarga dan berkontribusi untuk mengurangi pemborosan makanan. Padahal di sisi lain memenuhi kebutuhan pokok saja sudah sangat sulit. Perempuan senantiasa memikirkan bagaimana asap dapur bisa ngebul dan bagaimana keluarga bisa makan tiga kali sehari saja sudah disyukuri. Bagaimana mungkin mereka bisa disalahkan, boros?

Menjadi pekerja atau buruh tani bagi perempuan sangat menguras energi sehingga peran ganda sebagai istri dan ibu rumah tangga tidak bisa berjalan dengan sempurna. Mungkin kebutuhan akan materi terpenuhi tetapi peran sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik generasi akan terbengkalai.

Upaya memberdayakan perempuan untuk swasembada pangan dan mengapresiasinya karena memandang bahwa posisi perempuan lebih banyak dari laki-laki jadi pertanyaan kritis. Ke mana peran suami yang seharusnya lebih banyak dan lebih kuat sebagai pencari nafkah atau bertani?

Negara yang bersungguh-sungguh memegang amanah dalam mengatur dan melindungi rakyat seharusnya tidak melibatkan dan membebankan swasembada pangan dan segala programnya kepada rakyat. Apalagi kaum perempuannya. Negaralah penanggung jawab utama untuk menyelesaikan demi kepentingan seluruh rakyat. Hanya saja, hal ini tidak mungkin terwujud dalam sistem sekuler kapitalisme yang berasas manfaat dan materialistis sebagai tujuan utama.

Tentu hal di atas berbeda dengan Islam. Pemberdayaan perempuan dalam Islam memiliki konsep yang berbeda secara diametral dengan kapitalisme. Dalam Islam, pemberdayaan tidak diarahkan pada materi, tetapi perempuan diposisikan dalam posisinya yang mulia sebagai ummu ajyal (pembentuk generasi).

Status perempuan dalam Islam adalah isteri dan ibu rumah tangga bukan kepala keluarga atau tulang punggung yang tugasnya ada pada suami. Suami dalam Islam akan menjalankan perannya sebagai pencari nafkah. Surport sistem Islam baik pendidikan, ekonomi, sosial dan hukum akan membuat masyarakat sejahtera. Para petani pun bisa bekerja dengan optimal karena terbantu surport negara.

Dengan demikian, menciptakan swasembada pangan adalah tugas negara Islam. Negara pun menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat termasuk perempuan agar sejahtera tanpa harus bekerja. Islam memiliki mekanisme agar negara mampu memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat individu per individu termasuk perempuan. Dengan Islam perempuan akan menjalankan perannya baik sebagai isteri maupun ibu.

Wallahu a’lam bissowab

Berita Terkait

Urus Data Resmi Pemkab Meranti Kini Lebih Mudah, Plt. Kadis Kominfo Ajak Gunakan Layanan PPID
Coffee Morning Kapolres Dan Kajari Simalungun Perkuat Soliditas serta Sinergitas Penegakan Hukum Demi Rasa Aman dan Keadilan
KKN Unri Gelar Pelatihan, Ajak Masyarakat Pematang Duku Timur Ubah Sampah Jadi Berkah
Alumni dan Pelajar STM/SMK se-Kota Bogor, Deklarasikan Gerakan Stop Tawuran dan Tolak Narkoba
Sidak Dini Hari di Lapas Panyabungan, Kanwil Ditjenpas Sumut Pastikan Lapas Bersih dari Barang Terlarang dan Narkoba
HUT Bhayangkara ke-80: Ketua LAMR Meranti Datuk Seri Afrizal Cik Terima Penghargaan dari Kapolres
Wujud Nyata Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Paket Alat Mandi dan Pakaian untuk Warga Binaan
Rumah Ilmu Yang Menghangatkan: SMAN 8 Pekanbaru Buktikan Guru Yang Terus Belajar Lahirkan Generasi Emas

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 14:09 WIB

Aksi Unjuk Rasa Mendesak Transparansi Pengadaan Rudal BrahMos dan Penguatan Pengawasan DPR

Jumat, 3 Juli 2026 - 13:50 WIB

Melalui BNIdirect Bisnis, BNI Dukung Efisiensi Pengelolaan Keuangan UMKM

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:38 WIB

Sentuhan Kemanusiaan Kapolres Klaten Selamatkan Bayi Terlantar, DPP LPPI: Sosok Polisi yang Mengayomi Rakyat

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:22 WIB

Empati Kapolres Klaten Selamatkan Bayi Terlantar, : Wujud Kepemimpinan Humanis yang Mengedepankan Nilai Kemanusiaan

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:24 WIB

Rumah Moderasi Bersama Polri Serukan Orang Tua Aktif Melindungi Anak Dari Bahaya Radikalisme Diruang Digital

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:20 WIB

PMAKI Gelar Bimbingan Teknis Pencegahan Korupsi, KPK dan Komisi II DPR RI Tekankan Penguatan Integritas Pendidikan serta Kepemimpinan Berintegritas

Selasa, 23 Juni 2026 - 00:05 WIB

PW GPA : Masyarakat Yakin LHKPN Zita Anjani Didapat dari Usaha yang Sah

Senin, 22 Juni 2026 - 17:17 WIB

GP Alwashliyah Apresiasi Langkah Kapolri Ziarah Tokoh Bangsa: Teladan Pemimpin Merawat Persatuan

Berita Terbaru

error: Content is protected !!