Harimau Sumatera Betina Dilepasliarkan di Zona Inti Gunung Leuser

ALASTA NEWS

- Redaksi

Kamis, 22 Mei 2025 - 09:40 WIB

50465 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues, Aceh — Di tengah keheningan lebatnya hutan tropis Sumatera, suara baling-baling helikopter memecah langit pagi, Rabu, 21 Mei 2025. Di dalam helikopter itu, seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina bernama Senja, berada dalam kandang logam yang kokoh. Matanya tajam, tubuhnya siaga, seolah tahu bahwa hari itu akan menjadi awal dari kebebasan baru dalam hidupnya.

Senja, harimau berusia sekitar 7 hingga 8 tahun, merupakan salah satu dari sedikit individu yang berhasil diselamatkan dari ancaman di habitat aslinya. Ia berasal dari kawasan Barumun, Padang Lawas, Sumatera Utara, dan telah menjalani masa rehabilitasi panjang di pusat konservasi Barumun. Di sana, Senja menjalani proses pemulihan baik secara fisik maupun perilaku agar siap dilepasliarkan kembali ke alam liar.

Pelepasliaran dilakukan dari Bandara Blangkejeren menggunakan helikopter, karena lokasi yang dituju sangat terpencil dan hanya dapat dijangkau lewat jalur udara. Senja diterbangkan ke kawasan hutan Kedah, sebuah zona inti di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), tepatnya di Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues. Kawasan ini merupakan bentang alam yang masih alami, bebas dari aktivitas manusia, dan menjadi habitat ideal bagi predator besar seperti harimau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Momen pelepasan ini disaksikan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam upaya pelestarian satwa langka, termasuk Kapolres dan Dandim 0113/Gayo Lues, tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara dan Aceh, petugas TNGL, tim lembaga konservasi Barumun Padang Lawas, serta para relawan dan pegiat lingkungan. Semuanya hadir sebagai saksi dari upaya besar yang tidak hanya menyelamatkan satu individu harimau, tetapi juga menjaga keberlangsungan spesiesnya di alam liar.

Metode pelepasan melalui udara ini bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, pada akhir November 2022, seekor harimau betina bernama Besti juga dilepas menggunakan helikopter ke wilayah yang sama. Penggunaan helikopter memungkinkan pemindahan satwa ke daerah yang benar-benar aman dan minim risiko konflik dengan manusia.

Nama “Senja” dipilih bukan tanpa alasan. Ia menjadi simbol keindahan dan harapan di tengah ancaman kepunahan. Seperti senja di ujung hari, harimau Sumatera memang berada di batas waktu yang genting. Namun, seperti langit sore yang masih mampu menampilkan keindahan, Senja menjadi harapan bahwa semua belum terlambat.

Selama masa rehabilitasi, Senja diajari kembali keterampilan dasarnya sebagai harimau liar: berburu, menjelajah, serta mengenali dan menghindari ancaman. Harimau yang tidak lagi memiliki naluri liar akan sulit bertahan di alam bebas, sehingga tahap ini sangat krusial untuk memastikan keberhasilannya hidup kembali di hutan.

Setelah dilepas, pergerakan Senja akan terus dipantau melalui GPS collar yang telah dipasang sebelumnya. Melalui data ini, para peneliti akan dapat mengetahui pola jelajah, adaptasi, hingga potensi risiko yang dihadapi Senja di lingkungan barunya. Pemantauan ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan, dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan.

Pelepasliaran Senja adalah bukti nyata bahwa konservasi satwa liar masih mungkin dilakukan, jika ada kemauan, kolaborasi, dan dedikasi dari semua pihak. Di tengah tekanan terhadap habitat alami, perburuan, dan konflik manusia-satwa, setiap individu yang berhasil dikembalikan ke alam merupakan sebuah kemenangan besar.

Senja kini menjadi bagian dari rimba Leuser — salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Indonesia, bahkan dunia. Langkahnya yang kembali menjejak tanah hutan adalah suara yang mengingatkan kita bahwa harapan belum punah. Bahwa selama hutan masih ada, dan manusia masih peduli, harimau seperti Senja masih bisa berlari bebas.

Berita Terkait

PT Hopson Diduga Kembali Beroperasi, Aparat Dinilai Tak Bernyali Menegakkan Keputusan Pembekuan di Gayo Lues
PT Hopson Kembali Beroperasi Saat Dibekukan, Ketegasan Pemerintah Aceh Dipertanyakan di Tengah Krisis Lingkungan Gayo Lues
Festival Ceria Anak Bangsa di TK Negeri 2 Blangkejeren Diharapkan Jadi Inspirasi Pendidikan Anak Usia Dini
Aktivitas Ilegal PT Hopson di Gayo Lues Terus Berulang, Di Mana Negara Melindungi Lingkungan?
Produksi Ilegal PT Hopson Jalan Terus Meski Dilarang, Di Mana Polisi dan Pengawas Pemerintah?
Pembekuan Tinggal Formalitas, PT Hopson Diduga Bebas Jalankan Produksi Malam Hari di Gayo Lues
PT Hopson Diduga Langgar Komitmen Penghentian Operasional, Warga Rekam Aktivitas Pabrik Saat Malam Hari
PT Hopson Diduga Langgar Hasil Rapat Resmi Pemerintah, Cerobong Pabrik Tertangkap Aktif Saat Pengawasan Melemah

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:38 WIB

SMAN 1 Kutacane Catat Prestasi, 117 Siswa Lolos Seleksi Nasional Perguruan Tinggi 2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:01 WIB

Digerebek Saat Simpan Sabu, Pria Berinisial R Diamankan Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:52 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Ungkap Kasus Sabu di Lawe Bulan, Dua Terduga Pelaku Diamankan

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:06 WIB

2.540 Honorer Aceh Tenggara Resmi Terima SK PPPK Paruh Waktu, Salim Fakhry Tekankan Integritas dan Disiplin ASN

Senin, 25 Mei 2026 - 19:14 WIB

DPRK Apresiasi Langkah Bupati Rangkul Pers dan LSM

Senin, 25 Mei 2026 - 17:19 WIB

Polres Aceh Tenggara Gelar Razia Malam, Sopir Travel Bermuatan Berlebih Ditegur Humanis

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:37 WIB

BPJN 3.5 Pastikan Jalan Nasional Kutasane–Lawe Tua Persatuan Kembali Aman Dilalui Pascabanjir

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:11 WIB

Jalan Lintas Aceh Tenggara–Medan Pascabanjir Sudah Dibersihkan, BPJN Aceh 3.5 Kerahkan Alat Berat

Berita Terbaru

error: Content is protected !!