Warga Aceh Barat Tolak Penutupan Tambang Emas Tradisional

ALASTA NEWS

- Redaksi

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 05:59 WIB

50288 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meulaboh — Puluhan warga, mayoritas perempuan, menggelar aksi unjuk rasa menolak penutupan aktivitas tambang emas tradisional yang menggunakan alat berat di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, Kamis (2/10/2025). Aksi berlangsung di sekitar lokasi tambang yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat setempat.

Dalam aksinya, warga meminta Gubernur Aceh Muzakir Manaf memberikan perhatian terhadap keberlangsungan usaha mendulang emas yang selama ini mereka jalani. Aktivitas penambangan yang dilakukan secara manual dibantu alat berat dinilai telah menopang perekonomian keluarga mereka selama bertahun-tahun.

“Selama ini beko membantu mengurangi beban tenaga kami mendulang. Kalau beko ini dilarang, sama dengan menghentikan kerja kami,” ujar Cut Rosmania, warga Gampong Ketambang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan serupa disampaikan Norma, warga Gampong Sikundo. Ia menyebutkan, pekerjaan mendulang emas menjadi sumber utama biaya pendidikan anak-anak dan kebutuhan keluarga. “Anak kami di pesantren, sekolah semua kami biayai dengan pekerjaan kami ini,” ucapnya.

Aktivitas alat berat di lokasi tambang telah dihentikan setelah Gubernur Aceh menyampaikan larangan penggunaan alat berat di area yang belum memiliki izin resmi. Meski demikian, warga menilai bahwa alat berat tersebut berfungsi mendukung kegiatan penambangan tradisional yang dikelola masyarakat secara swadaya.

“Setiap beko itu ada 30 sampai 50 orang kami dibantu, itulah cara kami bertahan,” kata salah satu peserta aksi.

Sejumlah warga yang tergabung dalam aksi ini merupakan bagian dari komunitas yang selama ini hidup berdampingan dengan kegiatan tambang sebagai sumber ekonomi. Mereka berharap pemerintah daerah tidak hanya mengambil langkah pelarangan, tetapi juga memberikan solusi dan perhatian bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Mereka mendesak agar pemerintah membuka ruang dialog dan mencari jalan tengah yang mempertimbangkan kebutuhan ekonomi warga serta aspek legalitas tambang, guna menghindari dampak sosial yang lebih luas. (*)

Berita Terkait

Bea Cukai Aceh Perkuat Kompetensi Pengawasan Ekspor Lewat Pelatihan Bersama Pusdiklat dan BLBC
EWC IV Tingkat Nasional 2025: Ajang Literasi Akademik Mahasiswa Kembali Digelar
Rektor Lantik Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Teuku Umar
YBHA PM Aceh Barat : Pemkab Aceh Barat Harus Serius Tangani Kasus Anak
UTU Raih Enm Penghargaan Dalam Anugerah Diktisaintek 2024
Menanti Wajah Baru Aceh Barat: Generasi Muda Menjawab Tantangan

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:21 WIB

Temu Ramah Kapolres Gayo Lues Bersama Insan Pers, Ajak Perkuat Sinergi, Tegaskan Komitmen “SIGAP”

Jumat, 7 Agustus 2026 - 00:09 WIB

Kapolda Aceh Kunjungi Polres Gayo Lues Usai Mendampingi Kunjungan Kerja Wapres RI

Kamis, 6 Agustus 2026 - 23:54 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Gerebek Rumah Terduga Tempat Penyalahgunaan Narkoba, Satu Pelaku Diamankan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 23:41 WIB

Soroti Tren Belanja E-Purchasing, APH Diminta Awasi Ketat Dinas Pertanian Gayo Lues

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:49 WIB

Berbekal Informasi Warga, Satresnarkoba Gayo Lues Ringkus Satu Pelaku Penyalahgunaan Narkoba, Pengedar Diburu

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:50 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ringkus Dua Pelaku Penyalahgunaan Sabu, Pemasok Masih Diburu

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:27 WIB

Hari Bhayangkara Ke-80, Kapolres Gayo Lues: Tingkatkan Pelayanan Terbaik Kepada Masyarakat

Berita Terbaru

error: Content is protected !!