Opini oleh: Aditya Fenra
Di perkembangan jaman pada saat ini, banyak nilai-nilai kepedulian untuk bangsa mulai tersurutkan, apalagi dalam menanamkan tipologi kritis, sifat idealis, dan berjuang bersama untuk negara. Unsur tersebut seharusnya tersimpan disaku sang mahasiswa yang menjadi pelopor generasi selanjutnya.
Gairah semangat tersebut runtuh seketika digerus perkembangan jaman, bukannya malah makin membaik pola pikirnya malah makin tenggelam. Mahasiswa berpikir kritis kini langka di kais, namun sebaliknya mahasiswa pemeluk selimut keapatisan, semakin banyak tercetak per-tahunnya.
semakin banyaknya mahasiswa tercetak, seharunya makin penuh pula gagasan-gagasan yang membawa perbaikan, namun sayangnya di Indonesia gagasan untuk membangun tanah air sendiri mulai terlupakan, lebih tepatnya kepedulian untuk bangsa sendiri mulai tergerus oleh kemajuan teknologi, seharusnya semakin berkembangnya teknologi di era sekarang, mampu membawa mahasiswa ke era kejayaan, namun sayangnya mahasiswa di era 2023, 2024, 2025 malah membawa era kemajuan tersebut ke dalam angka kebobrokan.
Iya angka kebobrokan, hampir dari 100 mahasiswa 80 mahasiswa lainya terjerat kecanduan teknologi, bermain gim seperti kecanduan masal di kalangan mahasiswa, duduk bersila melingkar bukan mengasah pola pikir, bukan melontarkan ide-ide cemerlang untuk bisa dimanfaatkan bagi masyarakat. Namun membuka aplikasi gim yang dapat membawa kecanduan dan menumpulkan ketajaman berpikir.
Sayangnya lagi, mahasiswa pecandu gim ini, lebih memprioritaskan peringkatnya di dunia gim, bukan bagaimana cara mendapatkan IPK terbaik. Lebih parahnya lagi mahasiswa pecandu gim ini, lebih cenderung bersifat egois dan apatisme.
Untuk perbandingan, mari kita tarik dari benang sejarah mahasiswa di era 90 an. Di era tersebut banyak mahasiswa yang menjadi pendobrak sistem ketidak adilan bagi masyakat. Mendorong perubahan untuk kemajuan bangsa. Memikirkan khalayak ramai dari pada diri sendiri, bahkan mengorbankan kebebasannya untuk kepentingan umat.
Bukan hanya di era 90 an, pola pikir mahasiswa kritis, masih mengalir pula di era 2000 an bisa kita pilah di era non android, di tahun-tahun ini masih banyak kita temui mahasiswa yang berpikir kritis mendobrak gerbang DPR untuk menyuarakan kepentingan masyarakat, sibuk berdiskusi kesana kemari untuk mengasah ketajaman gagasan.
Bukan hanya di dunia aktivis, mahasiswa di era lampau juga menuangkan ide dan gagasannya melalui tulisan-tulisan tajam, yang mampu membawa gairah juang bagi pembacanya. Berfikir kritis namun memiliki landasan yang tepat serta ter-manajemen. Mendobrak kebodohan melalui diskusi, serta mengintimidasi kebodohan.
Kebobrokan mahasiswa di era sekarang bisa pula kita lihat dari sepi nya argument-argument yang kritis untuk kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap bangsa dan negara, bahkan hanya sibuk menulis status dari jendela media sosial dengan tulisan alay dan sok sosialita. Tidak peduli dengan angka kemiskinan, ogah dengan perambahan hutan. eh malah khusuk nonton anime. Mahasiswa seperti ini bisa kita sebut dengan mahasiswa G0BL*k.






